Lesson~Special Class: Prolog
Prolog: Dua Orang Guru
Gawat, aku terlambat lagi.
Dari arah lapangan, suara kepala sekolah yang diperkeras mikrofon terdengar nyaring. Tampaknya upacara pagi sudah dimulai.
Koganezawa Shinya yang berlari kencang menembus gerbang sekolah langsung melempar tasnya ke atas rak sepatu dan melompat menuju lapangan.
Sambil membungkukkan badan untuk memperhatikan situasi sekitar, ia menyusup ke dalam barisan teman-teman sekelasnya yang sudah berbaris mendengarkan arahan kepala sekolah.
(Untung saja sempat….)
Tepat saat Shinya menghela napas lega dan menegakkan punggungnya, Aoki, guru wali kelasnya, melangkah perlahan mendekati dari belakang lalu menegurnya dengan nada menyindir.
“Percuma saja kau sembunyi-sembunyi seperti itu, tetap kelihatan. Ini sudah ketiga kalinya kau terlambat di semester ini, Koganezawa.”
Mendengar ucapan Aoki yang rambut berminyaknya terbelah rapi tujuh-tiga, Shinya meracau kesal di dalam hati. Di kelasnya, siapa pun yang terlambat tiga kali wajib tinggal di sekolah untuk membersihkan area sekolah.
Lokasinya selalu berganti-ganti. Kadang disuruh membersihkan toilet, kadang mengumpulkan daun-daun kering di halaman sekolah. Semuanya tergantung suasana hati Aoki.
“Nanti kuberitahu area mana yang harus kaubersihkan. Sekarang, dengarkan baik-baik arahan kepala sekolah.”
Percuma saja menatap tajam punggung Aoki yang melangkah pergi.
(Sialan. Kalau tahu bakal disuruh bersih-bersih juga, lebih baik sekalian saja membolos upacara pagi dan datang pas jam pelajaran pertama.)
Meski suasana hatinya memburuk, upacara pagi baru saja dimulai dan pidato kepala sekolah sepertinya masih akan berlangsung lama.
Merasa bosan, pandangan Shinya tanpa sadar teralih pada sosok guru cantik yang baru saja berjalan melintas di depannya.
Ihara Kaoru berjalan pelan di antara barisan para siswa dengan kedua tangan bertaut di belakang pinggangnya.
Kaoru, yang mengajar pelajaran seni, mengenakan kacamata tanpa bingkai dan selalu melapisi pakaian luarnya dengan jas laboratorium putih yang ternoda cat. Penampilannya yang sekilas tampak biasa saja itu justru semakin menonjolkan kecantikannya.
Mata bening di balik lensa kacamata, rambut hitam berkilau yang disanggul rapi, serta bibirnya yang berkesan terpelajar. Ditambah lagi dengan pembawaannya yang dingin dan jarang menunjukkan ekspresi….
Kecantikan Kaoru yang memancarkan aura anggun membuat banyak siswa mengaguminya. Tentu saja, Shinya adalah salah satu di antaranya.
Ia selalu menantikan pelajaran seni seminggu sekali itu dengan antusias.
Seandainya punya bakat melukis, ia pasti sudah bergabung dengan klub seni…. Tapi sayangnya, kemampuan menggambar Shinya masih sekelas anak SD.
Saat sedang melamun sambil memperhatikan sosok Kaoru, Shinya terkejut karena tiba-tiba kepalanya ditoyor dari belakang.
“Melamun apa kau?”
Shinya yang kaget mendadak menoleh, lalu mendapati Takigawa Yuki, guru olahraga, sedang menatapnya tajam dengan dahi berkerut. Namun, bahkan dengan ekspresi seperti itu pun, Yuki terlihat begitu memikat hingga membuat dada berdebar.
Secara refleks Shinya merintih pelan, lalu bergegas memperbaiki posisinya dan mengarahkan pandangannya kembali ke kepala sekolah.
“Bukankah kau harus mendengarkan arahan kepala sekolah baik-baik?”
Sekali lagi, kepalan tangan Yuki mendarat di kepala Shinya cukup keras hingga berbunyi. Namun, itu adalah rasa sakit yang menyenangkan. Ia bahkan bisa merasakan tatapan iri dari anak-anak laki-laki di sekitarnya.
“Maafkan aku.”
Saat Shinya meminta maaf dengan patuh, Yuki tersenyum puas lalu kembali berjalan pelan di antara para siswa.
Padahal baru saja dimarahi, tapi kali ini ia justru terpesona melihat sosok Yuki dari belakang.
Yuki, yang mengajar pelajaran olahraga dan menjadi pembina klub renang, selalu mengenakan setelan baju olahraga merah yang terkesan santai.
Gaya rambut pendeknya membuat Yuki terlihat bagaikan anak laki-laki, tetapi kepopulerannya di kalangan murid laki-laki tidak kalah dibandingkan Kaoru.
Pasalnya, berbanding terbalik dengan sifatnya yang agak tomboi, kulit cokelatnya yang eksotis dipenuhi daya tarik yang sehat. Belum lagi bentuk tubuhnya yang padat berisi terlihat jelas di balik baju olahraga yang dikenakannya.
Menurut rumor yang beredar, ukuran dada Yuki mencapai F-cup.
Tubuh yang terlatih lewat olahraga renang itu tampak kencang—dengan lekuk pinggang yang indah serta bagian-bagian menonjol yang pas—membuat siapa saja yang melihatnya tahan napas.
Banyak murid laki-laki yang mendaftar ke klub renang semata-mata karena ingin melihat Yuki mengenakan baju renang. Namun, mereka yang bergabung dengan niat tidak tulus biasanya akan menyerah akibat gemblengan Yuki yang terlalu keras, hingga akhirnya memilih keluar dari klub.
Meski begitu, ketegasan itu justru semakin menambah jumlah penggemar di kalangan murid laki-laki.
Kaoru dan Yuki. Walaupun keduanya adalah guru perempuan dengan tipe yang jauh berbeda, Shinya—seperti anak-anak laki-laki lainnya—sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak terpikat oleh mereka berdua.

Post a Comment