Lesson~Special Class: Lesson 1

1

Lesson 1: Guru Seni ~ Pelajaran Pengalaman Pertama

1. Model Telanjang

Ketika sedang memoles lantai ruang seni dengan kain pel, Shinya tidak mampu menahan senandung kecil yang keluar dari mulutnya.

Saat tahu bahwa tempat pembersihan yang diperintahkan Aoki sebagai hukuman keterlambatannya adalah ruang seni, Shinya bersorak girang di dalam hati.

Yang paling parah adalah membersihkan toilet di gedung terpisah. Dibandingkan dengan itu, membersihkan ruang seni adalah sebuah kenikmatan luar biasa.

Terlebih lagi, tempat ini adalah wilayah Ihara Kaoru. Ia teringat kembali sosok Kaoru yang sedang menghadap kanvas dengan ekspresi serius bersama para siswa saat pelajaran seni.

Mungkin sudah menjadi kebiasaannya, tetapi gestur menggigit bibir saat sedang berkonsentrasi terasa sangat menggoda.

Setiap kali memikirkan Kaoru, pikiran Shinya yang dikuasai oleh hasrat muda langsung tenggelam dalam fantasi mesum.

Sinar matahari sore yang menerobos masuk dari jendela memantul di lantai, menyinari sosok Kaoru secara romantis. Ketika ia mengintip kanvas dari belakang Kaoru, sosok yang sedang dilukis di sana adalah dirinya sendiri.

Saat menyadari bahwa sosok yang ditatap hangat oleh Kaoru adalah dirinya, Shinya merasa agak malu, tetapi karena merasa senang, ia makin mendekatkan wajahnya.

Pipi Shinya berada sangat dekat hingga hampir menyentuh pipi Kaoru. Ketika ia mengintip kanvas dari jarak dekat hingga bisa merasakan kehangatan tubuhnya, Kaoru perlahan menoleh dan menempelkan bibirnya ke bibir Shinya.

Shinya mendelik kaget, sementara Kaoru menatapnya dari jarak dekat dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya terbuka menggoda, dan napas hangat berembus keluar.

Kemudian, Kaoru melepas jas laboratoriumnya demi Shinya….

“Apa yang sedang kubayangkan, sih?!”

Shinya menegakkan punggungnya sambil menjadikan kain pel sebagai tongkat, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir fantasi konyol tersebut. Memikirkannya saja terasa sia-sia.

Tidak mungkin Kaoru, guru cantik yang dewasa dan terpelajar itu, mau melayani siswa biasa seperti dirinya.

Buktinya, meski sudah mengikuti pelajaran seni selama lebih dari satu tahun, ia belum pernah sekalipun mengobrol secara pribadi dengannya. Ia bahkan tidak yakin apakah Kaoru ingat namanya atau tidak.

Sudahlah, lebih baik selesaikan pembersihan ini dengan cepat.

Saat Shinya mencelupkan kain pel ke dalam ember berisi air dengan pemikiran tersebut, tiba-tiba suara pintu terbuka bergema di dalam ruang seni yang hening.

Shinya menoleh terkejut, dan di ujung pandangannya berdiri Kaoru, sosok yang baru saja menjadi objek fantasinya.

Apakah ini kenyataan atau kelanjutan dari fantasi, Shinya tak bisa memutuskannya seketika. Namun, Kaoru masuk ke ruang seni tanpa memedulikan terkejutnya Shinya.

“Kau sedang membersihkan ruangan? Padahal tak perlu melakukan itu.”

Disapa oleh guru perempuan idamannya, Shinya menjawab dengan gugup.

“Tapi, Aoki-sensei menyuruhku melakukannya sebagai hukuman keterlambatan….”

“Ara, begitu ya. Tapi, pembersihannya sudah cukup. Hari ini tak ada pelajaran seni, jadi tempat ini tidak terlalu kotor.”

“B-baik….”

Shinya menjawab dengan ragu-ragu sambil tetap memegang kain pel.

Jika memungkinkan, ia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya. Situasi di mana ia berada di ruang tertutup hanya berdua saja dengan guru seni idamannya—Ihara Kaoru—mungkin adalah kesempatan berharga yang tidak akan datang dua kali.

Namun, terus membersihkan secara paksa juga terasa sangat tidak alami.

Dengan perasaan berat hati, ia menyimpan kain pel ke dalam lemari alat kebersihan di sudut kelas. Tiba-tiba Kaoru berkata seolah baru saja teringat sesuatu.

“Ah benar, kau… kalau tidak salah Koganezawa-kun, 'kan? Maukah kau menjadi model lukisanku?”

“Model?”

Ini benar-benar terasa seperti kelanjutan dari fantasi tadi.

Ia merasa senang karena Kaoru mengingat namanya, tetapi di saat yang sama Shinya merasa cemas jangan-jangan isi hatinya telah terbaca, sehingga wajahnya menunjukkan kebingungan.

“Siswa yang berjanji denganku mendadak ada urusan lain, jadi aku sedikit kesulitan. Aku datang ke sini berpikir untuk membuat sketsa patung gips saja karena tidak ada pilihan lain, tapi ternyata ada model yang pas di sini.”

Kaoru menatap Shinya dari samping sambil tersenyum sedikit jahil.

Senyuman Kaoru yang dingin dan jarang mengubah ekspresi wajahnya memberi dampak yang membuat jantung Shinya serasa tertembus.

Ia belum pernah menjadi model, dan merasa malu jika ditatap terus-menerus oleh Kaoru, tetapi jika ia bisa berada berdua saja di ruang tertutup ini sedikit lebih lama….

“Apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku yang menjadi modelnya?”

“Ya, kau saja cukup. Ini hukuman karena terlambat. Pasrah saja dan jadilah model.”

Saat dikatakan seperti itu, Shinya merasa senang karena seolah-olah mereka berdua memiliki hubungan yang akrab.

“…Baiklah. Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Kalau begitu sudah diputuskan.”

Kaoru segera mulai menutup tirai.

Tindakan itu sempat menimbulkan rasa heran, tetapi karena mengira Kaoru ingin menyesuaikan pencahayaan untuk sketsa, Shinya hanya memperhatikan Kaoru yang berjalan menutup tirai.

“Apa yang kaulakukan? Cepat lepas pakaianmu.”

Kaoru mendesaknya, tetapi Shinya tidak memahami arti dari kata-kata yang diucapkan dengan santai itu.

“Melepasnya?”

“Tentu saja, kalau tidak telanjang, aku tidak bisa membuat sketsa. Aku tidak ingin membuat sketsa pakaian luar seperti seragam sekolah. Aku ingin membuat sketsa tubuh manusia.”

…Telanjang?

Begitu akhirnya memahami arti ucapan Kaoru, seluruh tubuh Shinya langsung terasa panas, dan ia bisa merasakan wajahnya memerah.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ini adalah seni.”

Setelah mendirikan penyangga lukisan, Kaoru meletakkan kursi di seberangnya lalu duduk dan menatap Shinya yang masih kebingungan.

“…Apakah aku benar-benar harus bertelanjang?”

Saat Shinya bertanya seolah meminta pertolongan, Kaoru menjawab singkat, “Ya,” lalu memainkan arang sketsa di antara jarinya untuk mendesak Shinya.

Suasananya membuat Shinya tak bisa berkata, “Aku tidak mau” pada saat seperti ini.

Ini adalah seni. Jika ia menolak secara keras kepala, itu hanya akan membuktikan bahwa pikirannya memang tidak murni.

Mau tidak mau, Shinya membuka kancing seragam sekolahnya.

Ia melepas jaket luar dan kemejanya. Ketika ia ragu-ragu di tahap itu, Kaoru berkata dengan dingin, “Celananya juga.”

Shinya membelakangi Kaoru dan dengan enggan menurunkan celana seragamnya. Dari belakang, suara Kaoru kembali terdengar.

“Itu juga. Tak ada orang yang akan datang, jadi tenang saja.”

Saat menoleh, Kaoru menunjukkan celana dalam Shinya dengan pandangan matanya.

“Tidak mungkin, kalau yang ini….”

Mengira itu hanya bercanda, Shinya memerhatikan ekspresi Kaoru, tetapi mata bening di balik kacamata tanpa bingkai itu hanya menatap Shinya secara lurus.

(Dia serius…. Aku tak bisa memahami cara berpikir seorang seniman. Kenapa bisa jadi begini? Padahal aku hanya mengharapkan waktu yang menyenangkan berdua saja dengan Ihara-sensei….)

Namun, ia tak bisa berhenti di sini. Seharusnya ia tidak mengiyakan untuk menjadi model dari awal.

(Kalau sudah begini, persetan saja.)

Shinya melepas celana dalamnya sekaligus, lalu membalikkan badan ke arah Kaoru sambil menutupi area intimnya dengan kedua tangan.

“Ya. Walau kurus, ototmu terbentuk dengan baik. Kau lulus sebagai model.”

Setelah menyusuri pandangannya dari ujung kaki hingga puncak kepala Shinya, Kaoru berkata dengan puas.

Shinya yang belum memiliki pengalaman seksual sama sekali, tentu saja baru pertama kali ini bertelanjang di depan seorang wanita.

Terlebih lagi, wanita itu adalah Kaoru, guru seni yang dikaguminya.

Rasa malunya luar biasa hingga tak terbayangkan sebelumnya, tetapi Kaoru dengan tenang memberikan instruksi pose kepada Shinya yang bertelanjang bulat.

“Majukan kaki kirimu sedikit, lalu posisikan tanganmu di belakang pinggul.”

Sesuai instruksi Kaoru, ketika mengambil pose tersebut, area intimnya menjadi terekspos jelas. Namun, akibat ketegangan dan rasa malu yang luar biasa, bagian vitalnya mengerut dan hampir terbenam di dalam rambut kemaluan.

Ia pernah mendengar bahwa organ vital pria yang lebih besar lebih disukai wanita, sehingga fakta bahwa miliknya mengecil dan hampir tenggelam membuat Shinya merasa semakin tak berdaya.

Namun, seolah tidak peduli dengan rasa malu Shinya, Kaoru mulai membuat sketsa dengan ekspresi serius.

“Jangan bergerak dari posisi itu.”

Di dalam kelas, hanya suara gesekan arang di atas buku sketsa yang bergema dengan hening.

Saat dipikirkan secara tenang, tak ada hal yang lebih memalukan daripada ini. Bertelanjang bulat di dalam kelas yang terang dan diamati hingga bagian terperinci oleh seorang guru seni yang cantik.

Shinya terus mempertahankan posisinya sambil berharap waktu ini berlalu dengan cepat.

Kaoru yang menggambar dalam diam beberapa saat mulai menunjukkan ekspresi tidak puas.

“Sepertinya kurang terasa daya hidupnya. Bisakah bagian itu dibuat sedikit lebih besar?”

Dari balik kacamatanya, pandangan dingin Kaoru tertuju pada area intim Shinya.

Ia sedang membicarakan bagian vital Shinya yang mengerut dan hampir tersembunyi di balik rambut kemaluan.

“Meskipun Sensei berkata begitu….”

Saat ditatap secara langsung, rasa malunya makin menjadi-jadi dan ukurannya justru makin mengecil. Harga dirinya terinjak-injak karena memamerkan hal yang begitu menyedihkan, sehingga Shinya tanpa sadar menutupi area tersebut dengan tangannya.

“Mau bagaimana lagi ya.”

Kaoru menghela napas dan memiringkan kepalanya sejenak seolah berpikir. Namun, wajahnya langsung cerah seakan teringat sesuatu, dan dengan senyum jahil, ia menyilangkan kakinya dengan tinggi sambil duduk bersandar di kursi.

Pada saat itu, belahan jas laboratoriumnya terbuka lebar, dan kaki mulus yang terentang dari balik rok super mini menjadi terekspos.

Tidak hanya itu. Dari posisi Shinya, bagian dalam roknya terlihat dengan sangat jelas.

Stoking garter yang menutupi hingga paha terputus, dan di balik kulit putih yang terekspos itu, celana dalam hitam terlihat dengan sangat jelas.

Pakaian dalam yang tidak terbayangkan dari penampilannya yang biasanya anggun….

(Ternyata Ihara-sensei memakai pakaian dalam yang seksi seperti ini….)

Meski tahu tak boleh melihatnya, pandangan Shinya terus tertarik ke arah pangkal paha Kaoru.

Dan tanpa disadari, di bawah tutupan kedua tangannya, bagian vital Shinya mulai berubah bentuk.

“Singkirkan tanganmu.”

Terdorong oleh ucapan Kaoru, Shinya menyingkirkan tangan yang menutupi area intimnya, lalu penis yang melingkar gelap mulai menampakkan diri.

Bagian itu tidak lagi tersembunyi di balik rambut kemaluan. Penis yang tadinya terkulai lemas mulai menegak dan membesar di bawah tatapan Kaoru.

“Ufufu…. Bagus, tetap seperti itu.”

Melihat respons Shinya yang sangat jujur, Kaoru tersenyum lalu melanjutkan sketsanya.

Namun, ereksi Shinya tidak tahu batasan. Rasa malu karena dilihat berubah menjadi gairah, dan penis mudanya menjadi sangat keras hingga melengkung tinggi menempel ke perut bawah.

“Aah, kalau begitu terlalu erotis. Aku 'kan tidak sedang menggambar lukisan erotis.”

Kaoru menyunggingkan bibirnya dengan nada tidak puas, tetapi meski dikatakan begitu, reaksi tubuh yang sudah terlanjur panas tak bisa ditahan lagi.

“M-maafkan aku.”

Shinya meminta maaf sambil tetap mempertahankan posisinya dengan patuh. Namun jika dipikirkan secara tenang, apakah ada situasi yang lebih membangkitkan gairah daripada ini?

Berdiri telanjang di depan Ihara Kaoru, guru seni yang anggun dan terpelajar, dengan area intim yang mengalami ereksi hebat….

“Merepotkan, ya.”

Sekali lagi raut kebingungan muncul di wajah cantik Kaoru.

“Baiklah. Mau bagaimana lagi, aku akan membantumu.”

Kaoru bangkit dari kursi lalu melangkah mendekat.

“A-apa yang mau Sensei lakukan?”

Tak tahu apa yang akan dilakukan Kaoru, Shinya mundur satu langkah dengan suara ketakutan.

“Tidak perlu takut.”

Berbicara dengan lembut, Kaoru berlutut di depan Shinya lalu mengulurkan tangannya menuju bagian yang sedang tegang di area intim Shinya.

“S-Sensei….”

Terkejut, Shinya mencoba menarik pinggulnya mundur, tetapi tangan Kaoru lebih cepat menggenggam penis Shinya. Sentuhan tangan yang dingin mengalirkan kenikmatan hebat ke seluruh tubuh Shinya.

“Habisnya, kalau begini aku tak bisa membuat sketsa. Kalau dikeluarkan sekali, bukankah bagian ini akan tenang?”

Tangannya yang menggenggam erat mulai bergerak naik dan turun.

“Uuh….”

Sambil mengerang pelan, Shinya tetap menyerahkan area intimnya untuk diperlakukan sesuka hati. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Seorang guru seni dengan aura terpelajar yang tampaknya jauh dari hal-hal seksual, kini sedang menggenggam bagian vitalnya yang berdiri telanjang—terlebih lagi bagian vital yang mengalami ereksi hebat—dan mengocoknya naik turun.

Itu dilakukan… untuk menenangkan ereksinya.

(Mengeluarkannya sekali, maksudnya ejakulasi? Apakah Ihara-sensei mencoba menggosok milikku agar aku ejakulasi?)

Begitu menyadari hal itu, penis yang digenggam oleh jemari putih itu berdenyut kencang.

“Ara…. Masih bisa membesar lagi?”

Kaoru bergumam terkejut sambil menatap lurus ke arah area intim Shinya. Penis itu membesar dan mengeras hingga batas maksimal, sampai-sampai jari-jari putih Kaoru tak bisa melingkarinya dengan sempurna.

Tadi ia merasa malu karena terlalu kecil, tetapi kali ini ia merasa malu karena ukurannya menjadi terlalu besar. Seolah-olah pikiran mesum Shinya tersimpan padat di dalamnya.

Ia berpikir Kaoru akan meremehkannya karena mengalami ereksi sehebat ini di depannya, tetapi reaksi sang guru justru di luar dugaan.

“Luar biasa. Ternyata kau punya hal yang sehebat ini. Sensei telah salah sangka padamu, Koganezawa-kun. Selama ini Sensei selalu berpikir kau anak yang agak tak bisa diandalkan. Tapi ternyata kau begitu gagah….”

Berbisik dengan nada yang tidak biasanya terasa manja, Kaoru menggenggam penis Shinya dengan kedua tangan, lalu menarik tangannya turun perlahan sambil meremasnya erat.

Lipatan kulit yang menutupi separuh bagian ujungnya terkelupas sepenuhnya, memperlihatkan kepala penis yang memerah dan tegang.

Cairan bening sudah keluar merembes dari lubangnya akibat rasa gairah yang tinggi.

“Ufufu…. Ini yang disebut cairan pra-ejakulasi, 'kan?”

Berbicara memprovokasi dengan kata-kata cabul, Kaoru mendekatkan wajah cantiknya ke arah bagian vital Shinya yang sedang ereksi.

“Sensei, apa yang mau Sensei lakukan?”

Tepat setelah Shinya mengeluarkan suara kebingungan, lidah panjang terulur dari bibir Kaoru dan menjilati ujung penisnya.

“Uuuh….”

Pada saat itu, penisnya terasa sangat panas seolah-olah hendak meleleh.

“Apakah Koganezawa-kun sudah pernah melakukan pengalaman pertama?”

Menjawab pertanyaan Kaoru, Shinya menggelengkan kepala dalam diam. Ia takut dianggap seperti anak kecil dan diejek, tetapi ia tidak punya pilihan selain menjawab dengan jujur.

“Begitu ya… Kalau begitu, dijilat seperti ini juga baru pertama kali, 'kan? Ini terasa lebih enak daripada pakai tangan, 'kan?”

Dengan pandangan mata yang mengikat lekat ke arah penisnya, Kaoru menjilat bibirnya sendiri, lalu meletakkan lidah yang terulur ke pangkal penis Shinya dan mengusapnya perlahan ke atas.

“Uuh… haah… terasa nikmat….”

Penisnya berdenyut-denyut dan lututnya gemetar.

Meski begitu, Shinya tetap menyodorkan area intimnya dengan patuh. Ia ingin menikmati rasa nikmat ini selama mungkin. Ia ingin menghindari pergerakan ceroboh yang bisa mengubah perasaan Kaoru.

Seolah usahanya menyampaikan perasaan itu berhasil, setelah menjilati penis beberapa kali dengan ujung lidahnya, kali ini Kaoru langsung menelan bagian ujungnya ke dalam mulut sekaligus.

Penis yang memerah dan tegang tertelan di antara bibir tipis berkesan terpelajar, dan tidak lama kemudian jaringan hangat di dalam mulut membungkus Shinya secara lembut dan basah.

“Uuuuuh….”

Sama seperti pose saat menjadi model lukisan tadi, Shinya menautkan kedua tangannya di belakang pinggul dan bertahan kokoh dengan kedua kakinya.

Jika lengah sedikit saja, kenikmatannya bisa membuat pinggulnya lemas dan jatuh terduduk.

Tentu saja kenikmatan fisik yang diterimanya sangat luar biasa, tetapi pemandangan di bawahnya yang begitu erotis hampir membuat pikirannya menjadi kosong.

Bagaimana tidak, Kaoru yang mengenakan jas laboratorium berlutut di depannya, lalu mengulum penis Shinya yang dipegang erat dengan kedua tangan seolah sedang menikmati makanan lezat.

Terlebih lagi, Kaoru menatap Shinya dari bawah dengan pandangan melirik sambil tersenyum manis, sementara penis itu masih tertelan di dalam mulutnya.

Shinya seolah bisa mendengar suara Kaoru yang mengatakan bahwa tidak apa-apa jika ia ingin langsung ejakulasi. Tanpa diberitahu pun, penis Shinya sudah berada di ambang ledakan.

Kenikmatan dari kuluman mulut wanita yang dirasakannya untuk pertama kali ini melebihi segala hal yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Uuuun….”

Sambil mengeluarkan erangan menggoda dari dalam tenggorokannya, Kaoru perlahan menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang, terus menggosok milik Shinya dengan bibirnya yang menawan.

Lidahnya melilit, dan jaringan hangat yang basah di dalam mulutnya menjepit lembut secara pekat.

Dengan kenikmatan yang begitu kuat, tidak butuh waktu lama bagi Shinya yang dipenuhi stamina muda untuk mencapai batas maksimalnya.

“S-Sensei… aku sudah….”

Mendengar bisikan Shinya yang tertahan, Kaoru melirikkan matanya sejenak lalu makin mempercepat gerakan kepalanya.

“Uuuh… Sensei, t-tidak boleh….”

Dengan suara basah yang menyedot air liur, Kaoru terus mengulum milik Shinya.

Pipi dari wajah cantiknya yang berbentuk telur kecil memerah, memancarkan ekspresi terpesona. Dan di antara bibirnya, penis yang kasar itu tertelan sepenuhnya.

Air liur meluap, mengalir mengotori dagu kecil Kaoru.

Sambil menatap ke bawah, Shinya merasakan tubuhnya telah mencapai batas. Jika terus begini, ia akan memuntahkannya di dalam mulut Kaoru.

Membiarkan sang guru menelan cairan tubuhnya terasa tidak sopan. Jika melakukan hal seperti itu, ia pasti akan dibenci.

“S-Sensei, uuuuh….”

Penisnya berdenyut dan bergetar hebat. Merasakan sesuatu yang panas meluncur di sepanjang saluran kencingnya, Shinya secara refleks menarik tubuhnya ke belakang.

“Haaa….”

Bersamaan dengan suara helaan napas yang berat, penis yang terlepas dari mulut Kaoru melengkung tinggi. Dari ujungnya yang basah bersinar oleh air liur, cairan putih pekat menyemprot keluar dengan deras.

“Uuuh, Sensei….”

Shinya berusaha keras menahan ejakulasinya, tetapi hal itu justru berdampak sebaliknya.

Penis Shinya berdenyut berulang kali, mencurahkan hujan cairan hangat ke wajah dan jas laboratorium Kaoru.

 

2. Berdenyut

Sambil menerima siraman cairan tubuh di wajah dan jas laboratoriumnya, Kaoru merasakan bagian terdalam tubuhnya memanas dan berdenyut gatal.

Aroma manis yang membangkitkan kenangan mengusik indra penciumannya, membuat bagian dalam tubuhnya terasa panas seolah hendak meleleh.

“Haaan, kau sudah keluar ya. Luar biasa, banyak sekali….”

Saat mendongak sambil mengembuskan napas menggoda, ia melihat muridnya, Koganezawa Shinya, tampak terpesona namun sekaligus menunjukkan ekspresi merasa bersalah.

Shinya merasa bingung dengan kejadian luar biasa yang sedang dialaminya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kaoru. Ia sama sekali tidak berniat untuk bertindak sejauh ini pada awalnya.

Lagi pula, keinginannya untuk membuat sketsa tubuh anak muda adalah perasaan yang jujur. Tubuh Shinya sangat ideal sebagai model lukisan. Posturnya tinggi ramping tanpa lemak berlebih, namun memiliki otot yang pas.

Hanya saja, ia sempat terganggu oleh bagian vitalnya yang tampak tidak bersemangat. Mungkin karena tegang, ukurannya mengerut seperti milik anak kecil.

Dari situ timbul niat iseng untuk menggodanya. Ia hanya berniat menggodanya seperti menggoda anak kecil yang belum matang secara seksual.

Namun, pemikiran itu terlalu meremehkan.

Ketika Kaoru sengaja menyibakkan ujung jas laboratoriumnya dan memperlihatkan pakaian dalam di balik rok mininya, bagian yang tadinya seperti milik anak-anak itu dengan cepat berubah bentuk menjadi organ reproduksi yang besar.

Wajahnya adalah milik anak laki-laki yang manis, tetapi bagian itu sepenuhnya milik pria dewasa. Terlebih lagi, penis yang mengalami ereksi penuh hingga melengkung menempel di perut bawah adalah sesuatu yang sangat besar, yang belum pernah dilihat Kaoru sebelumnya.

Meski berpura-pura tenang sambil melanjutkan sketsa, pandangan Kaoru tanpa sadar terus tertarik pada ereksi kekar milik Shinya, dan dari dasar tubuhnya muncul hasrat haus yang panas dan tak tertahankan.

Pada akhirnya, karena tidak mampu melawan keinginan itu, ia mengocok batang Shinya dengan tangan, bahkan mengulumnya dengan mulut hingga membimbingnya menuju ejakulasi….

“M-maafkan aku, Sensei.”

Sambil meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya—menumpahkan cairan ke tubuh sang guru—Shinya bergegas mengeluarkan saputangan dan mengusap wajah Kaoru.

Tangan Shinya yang hendak menjangkau jas laboratorium kemudian berhenti seketika.

Jika ia mengusap cairan di jas laboratorium, secara otomatis tangannya akan merasakan kelembutan tubuh wanita dewasa di baliknya.

Menyadari hal itu, ia menjadi ragu-ragu.

Pemikiran tentang tubuh guru perempuannya tampaknya memberikan gairah baru bagi Shinya. Di area intim Shinya yang masih bertelanjang bulat—penis yang baru saja kehilangan kekerasannya setelah mengeluarkan cairan dalam jumlah banyak—mulai kembali terisi tenaga.

Dengan berdenyut berulang kali, bagian ujungnya perlahan-lahan menegak kembali. Gerakannya seperti binatang buas yang baru saja menemukan mangsanya.

Kaoru tak bisa mengalihkan pandangannya dari penis Shinya. Air liur terus meluap di dalam mulutnya.

Pembuluh darah menonjol, dan bagian ujungnya mengembang luas seperti tombak daging….

Bagaimana rasanya jika bagian tubuhnya ditusuk dan diguncang secara kasar oleh benda tebal dan gagah ini?

Tubuh dewasa Kaoru yang berusia 27 tahun terakhir kali merasakan nikmatnya hubungan fisik adalah beberapa tahun yang lalu.

Dan kenikmatan semacam itu adalah jenis yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan dari hubungannya dengan kekasihnya yang sekarang.

Saat menatap penis Shinya, rahimnya berdenyut, dan sesuatu yang panas perlahan merembes ke dalam celana dalamnya.

“Haaa….”

Napas hangat yang keluar tanpa sadar dari mulut Kaoru menyadarkan Shinya kembali.

“Aah, maafkan aku. Padahal Sensei baru saja membantuku….”

Merasakan pandangan Kaoru, Shinya bergegas menutupi area intimnya dengan kedua tangan.

Ia merasa bersalah karena bagian vitalnya kembali membesar padahal Kaoru baru saja mengulumnya hingga ejakulasi.

(Padahal dia tidak perlu meminta maaf untuk hal seperti itu….)

Betapa lucunya dia, merasa malu atas organ reproduksinya yang terlalu bersemangat.

Hasrat kuat yang tidak mungkin ditahan oleh akal sehat mulai menguasai Kaoru. Ini adalah hal yang tidak terbayangkan dari dirinya yang biasa.

“Ah, jadi kotor 'kan.”

Bicara dengan nada yang sengaja dibuat-buat, Kaoru menurunkan pandangannya ke jas laboratorium yang dikenakannya dan menatap noda cairan tersebut.

“A-aku… pikir tidak boleh mengeluarkannya di dalam mulut Ihara-sensei….”

Shinya yang terbata-bata memberi alasan terlihat sangat menggemaskan.

Perasaan itu secara bersamaan menyalakan api gairah yang membara di dalam tubuh Kaoru.

Ia ingin mempermainkan murid yang manis ini lebih jauh….

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Baju ini memang dipakai agar pakaian dalam tidak kotor.”

Pada dasarnya jas laboratorium ini dipakai agar pakaian utamanya tidak terkena noda cat. Jika terkena cairan ini, tinggal dicuci saja.

Wajah Shinya yang sempat tersenyum lega mendengar perkataan lembut Kaoru, mendadak berubah kaku kembali. Hal itu karena Kaoru melepaskan jas laboratoriumnya.

Di balik jas laboratorium, ia mengenakan blus putih dan rok ketat mini berwarna abu-abu. Pakaian yang mempertegas lekuk pinggang, buah dada yang busung, serta garis pinggul yang menggoda itu terpapar jelas di bawah pencahayaan kelas yang terang, membuat Shinya memalingkan wajahnya karena silau.

Biasanya, saat berada di lingkungan sekolah, Kaoru hampir selalu mengenakan jas laboratorium, sehingga melihat bentuk tubuh Kaoru dari jarak dekat seperti ini jelas memberikan stimulasi yang sangat kuat bagi Shinya.

Kaoru sendiri menyadari bahwa tubuhnya memiliki daya tarik erotis. Tubuh yang disukai pria, dengan lemak yang pas dan kebulatan khas wanita.

Alasannya mengenakan jas laboratorium sepanjang hari adalah karena ia tidak ingin terlalu memicu gairah para murid laki-laki yang masih muda.

Kaoru sudah memiliki “kekasih” yang terpilih di hatinya, dan ia berpikir bahwa ditatap dengan pandangan penuh hasrat oleh siswa yang masih belum berpengalaman hanya akan mengganggunya.

Namun, Kaoru mulai berpikir di dalam hatinya bahwa pemikiran itu mungkin harus diubah.

“Ara, di sini juga ada nodanya.”

Noda kecil terbentuk di bagian dada blus putihnya. Tampaknya cairan yang terpercik ke jas laboratorium telah merembes hingga ke bagian dalam.

Kaoru membuka kancing blusnya, melebarkan bagian dadanya untuk memeriksa bagian belakang kain tersebut.

“Ah, ternyata merembes sampai ke dalam.”

Tindakan itu tidak memiliki arti khusus. Ia hanya ingin memicu gairah Shinya.

Di bagian dada, belahan buah dada putih yang terangkat oleh bra hitam tampak terlihat.

Di antara celah kedua buah dadanya, keringat tampak menggenang. Itu bukan karena panas. Kaoru juga merasa gairahnya terpacu tidak kalah dari Shinya.

Ia bisa merasakan pandangan tajam tertuju pada belahan dadanya, dan hal itu menjadi rangsangan manis yang membuat jantung Kaoru berdetak kencang.

Saat melirik dari sudut matanya, area intim Shinya tampak makin membesar dibandingkan sebelum ejakulasi. Meski berusaha ditutupi dengan kedua tangan, bagian ujungnya tetap terlihat karena tidak muat tertutupi.

“Kalau begini, aku masih belum bisa membuat sketsa.”

Saat Kaoru berbicara, Shinya hanya menunduk dalam diam. Meski begitu, bagian vital di area intimnya tetap berdiri kokoh penuh tenaga.

“Mau bagaimana lagi. Kasihan kalau dibiarkan begitu saja, aku akan membantumu menuntaskannya sampai benar-benar lega.”

“Eh? Sensei bilang apa?”

Merespons ucapan Kaoru, Shinya mendongak dengan wajah yang mencerminkan perpaduan antara harapan dan kecemasan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Aku bilang, aku akan membantumu menuntaskannya sampai milik Koganezawa-kun yang penuh semangat ini berteriak ‘sudah cukup’.”

Meski mengucapkannya sendiri, Kaoru bisa merasakan wajahnya memerah.

Di ruang kelas setelah jam sekolah—di ruang seni yang merupakan area pribadinya—ia sedang menggoda seorang anak muda yang usianya sepuluh tahun lebih muda.

Untuk menutupi rasa malunya, Kaoru segera berdiri, lalu sambil menatap dengan pandangan menggoda, ia mulai melepaskan pakaiannya.

 

3. Aku akan Mengajarimu

Melihat Kaoru yang mulai melepaskan pakaian di depannya, Shinya merasa seolah-olah sedang bermimpi.

Menjadi model lukisan bagi Ihara Kaoru, guru seni yang dikaguminya, saja sudah merupakan keberuntungan besar, tetapi bagian vitalnya malah dikocok dengan tangan, dan bahkan dikulum dengan mulut hingga ejakulasi.

Dan sekarang, Kaoru melepas pakaiannya di depan Shinya sambil berkata akan membantunya menuntaskan gairahnya sampai lega.

Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Pasti mimpi. Namun jika ini mimpi, ia berharap tidak terbangun. Setidaknya, sampai batas terakhir dilampaui….

Sambil berharap demikian, Shinya yang belum pernah berhubungan fisik dengan wanita sama sekali, tidak mampu membayangkan momen tersebut.

Pikirannya menjadi kosong, dan ia hanya bisa menatap Kaoru yang sedang melepaskan pakaiannya satu per satu.

Sambil sesekali melemparkan pandangan mata, Kaoru melepas blusnya, membuka kait di pinggang roknya, menurunkan ritsleting, dan dalam sekejap hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuhnya.

Bra dengan hiasan renda hitam dan celana dalam dengan warna senada. Stokingnya menutupi hingga pertengahan paha, ditahan oleh tali garter.

Biasanya Shinya tidak tahu pakaian dalam seperti apa yang dikenakan wanita, tetapi penampilan Kaoru terlihat sangat menggoda seperti seorang pelacur.

Fakta bahwa ia tetap mengenakan kacamatanya membuat penampilannya terasa makin provokatif.

“Bagaimana? Apakah tubuhku indah?”

Saat ditanya oleh Kaoru, Shinya mengangguk kaku berulang kali seperti mainan yang mendadak dinyalakan.

“I-indah…. Sangat indah….”

Mendengar perkataan Shinya, ekspresi Kaoru melunak dengan gembira, lalu perlahan tangannya bergerak ke belakang punggungnya. Pada momen berikutnya, sepasang buah dada yang lembut menyembul keluar seolah melepaskan diri dari cup bra.

Setelah melepaskan bra yang melekat, buah dada yang berukuran besar—yang tampak tidak seimbang dengan tubuhnya yang ramping—terpapar di depan Shinya. Di puncaknya, puting berwarna merah muda lembut mengeras dan berdiri di atas kulitnya yang putih.

Hanya mengenakan selembar celana dalam, Kaoru menarik dagunya dan menatap Shinya dari bawah dengan nada bermanja-manja.

“Mau coba menyentuhnya?”

Tentu saja ia ingin menyentuhnya, tetapi ia takut sikap Kaoru akan berubah drastis begitu tangannya menyentuhnya.

Saat ia ragu-ragu, Kaoru yang tidak sabar menggenggam lengan Shinya dan mengarahkannya ke dadanya sendiri.

“Tidak perlu sungkan.”

“Ah, Ihara-sensei….”

Rasa lembut buah dada menyentuh telapak tangannya. Sentuhan manis itu dengan mudah menerbangkan akal sehat Shinya.

Tanpa ragu-ragu lagi, ia meremasnya erat dari bawah dengan kedua tangannya.

“Haaah. Terlalu keras….”

Dengan wajah memerah dan sedikit memalingkan wajahnya, Kaoru berkata, “M-maafkan aku…”

Meski meminta maaf, gerakan tangannya yang meremas tidak berhenti. Seolah-olah tangan itu bergerak sendiri di luar kendalinya.

“Haaan, Koganezawa-kun kasar sekali, ya….”

Sambil mengembuskan napas menggoda, Kaoru dengan pasrah menyodorkan dadanya.

Buah dadanya yang melimpah hingga tak muat di telapak tangan Shinya terasa lembut, tetapi memiliki daya membal yang menolak dorongan jari.

Saat terus meremasnya untuk menikmati sentuhan itu, Shinya merasakan puting dadanya mengeras di telapak tangannya.

“Ah, puting Sensei jadi sangat keras.”

Saat Shinya mencubitnya dengan jari tanpa ragu, tubuh Kaoru bergetar hebat dan ia bersandar ke dada Shinya.

“Haaah…. Tubuh wanita itu sensitif. Lakukan dengan lebih lembut.”

Berbisik di dekat telinga Shinya membuat seluruh tubuh Shinya merinding.

Terlebih lagi, ketika bagian bawah perut Kaoru menekan bagian tegang Shinya, Shinya membuang sifat pemalunya dan menuruti instingnya untuk menginginkan tubuh wanita itu.

“Ah, Ihara-sensei…. Aku menyukaimu. Aku selalu mengagumi Sensei dari dulu.”

Meluk erat dengan seluruh tenaganya, Shinya merobohkan tubuhnya ke atas meja sambil menindih Kaoru.

Meja besar yang biasa digunakan oleh delapan orang untuk belajar bersama itu kini terasa seperti ranjang atau panggung erotis.

Berbaring di atasnya, Shinya membenamkan wajahnya di antara belahan dada gurunya yang lembut lalu menarik napas dalam-dalam.

“Ah, harum sekali….”

Mungkin karena menggunakan parfum, perpaduan antara aroma lembut dan sedikit aroma tubuh menembus bagian belakang kepala Shinya.

“Tidak boleh, jangan bicara yang aneh-aneh. Sebenarnya mungkin bau keringat, 'kan?”

Kaoru mengeluarkan suara bingung dan memalingkan wajahnya karena malu.

“Tidak seperti itu. Aromanya sangat wangi.”

Sambil menatap profil wajah guru seninya yang anggun, perhatian Shinya beralih ke bagian bawah perut.

(Seperti apa bentuk area sensitif Ihara-sensei? Ah, aku ingin melihatnya. Aku sangat ingin melihatnya….)

Ia perlahan mengulurkan tangannya menuju gundukan yang terbungkus pakaian dalam hitam—yang tadi tertekan oleh penisnya.

“Aah….”

Saat ujung jarinya menyentuh bagian itu, Kaoru meliukkan tubuhnya dengan menggoda lalu menggenggam pergelangan tangan Shinya dengan erat.

“Ihara-sensei….”

Suara Shinya terdengar memelas.

Jika dihentikan di sini, tubuh Shinya bisa hancur oleh gairah yang menumpuk di dalam dirinya.

Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Kaoru bukan bertujuan untuk menghentikannya.

“Di situ bagian yang sensitif, jadi sentuhlah dengan lembut.”

Setelah berkata demikian, ia sendiri yang mengarahkan ujung jari Shinya menuju bagian paling sensitif tersebut.

Pakaian dalamnya sudah basah kuyup. Saat menekan jarinya, terasa ada sesuatu yang licin menggesek di bagian dalam. Celah dagingnya telah terbalur oleh cairan gairah.

“Ufufu…. Malu sekali….”

Dengan mata berbinar penuh gairah, Shinya menatapnya, sementara Kaoru memalingkan wajahnya dari pandangan Shinya dengan ekspresi silau.

Ia tidak menyalahkan tindakan Shinya, justru bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan rasa antisipasi.

“Bolehkah aku menyentuhnya secara langsung?”

Mendengar pertanyaan Shinya yang bercampur napas panas, Kaoru mengangguk pelan tanpa suara.

Setelah mengonfirmasi jawaban itu, Shinya dengan cepat memegang celana dalam Kaoru lalu menariknya turun sekaligus. Ia takut perasaan Kaoru akan berubah.

Namun kekhawatiran itu tidak diperlukan. Begitu celana dalam terlepas dari kakinya yang mulus, Kaoru sendiri yang membuka lebarkan kakinya di depan Shinya.

“Aaaah, Sensei….”

Shinya mengeluarkan suara yang tidak jelas apakah desahan napas atau helaan terkejut, lalu menatap bagian panas gurunya yang telah meleleh.

Meskipun Kaoru memiliki wajah anggun yang terkesan dingin, bagian itu tampak basah meleleh dan bersinar oleh cairan kental.

“Haaan, jangan dilihat seperti itu….”

Merasakan embusan napas Shinya yang mengintip dekat, Kaoru berkata dengan suara tertahan sambil meliukkan pinggulnya. Namun, area intimnya tetap terbuka lebar menerima pandangan Shinya.

Guru seni yang anggun dan dikagumi para siswa laki-laki kini berbaring telanjang di atas meja praktik, membuka kakinya lebar-lebar seperti bayi yang sedang diganti popoknya….

Shinya mengembuskan napas berat lalu mengamati bagian rahasia gurunya dengan lebih teliti.

Sesuai dugaan dari kulitnya yang putih, bibir daging Kaoru berwarna merah muda yang indah tanpa adanya pigmentasi gelap.

Namun, jaringan di bagian dalamnya memerah tegang.

Cahaya merambat masuk ke dalam celah yang terbuka sedikit, membuat lipatan-lipatan kecil di dalamnya terlihat dengan jelas.

Terpanggil oleh gerakan lubang daging yang membuka dan menutup seirama dengan napasnya, Shinya secara refleks mengulurkan tangannya.

“Haaaah….”

Saat ujung jari Shinya menyentuhnya, tubuh Kaoru bergetar hebat. Bagian yang memerah dan panas itu tampaknya sangat sensitif.

Namun, Kaoru memeluk kakinya sendiri agar kedua kakinya tidak merapat.

Dengan melekukkan lutut dan menonjolkan area intimnya, bibir dagingnya terkelupas basah, dan pergerakan bibir yang meleleh itu mengingatkan pada anemon laut.

Dan Shinya adalah ikan kecil yang terpancing oleh anemon tersebut.

“Sensei… bolehkah aku memasukkan jari ke bagian milik Ihara-sensei ini?”

Mendengar pertanyaan Shinya, Kaoru mengeluarkan suara tidak sabar dari hidungnya.

“Haaan, jangan bertanya hal seperti itu satu per satu….”

Setelah berkata demikian, Kaoru makin mengeratkan genggamannya pada kedua lututnya.

Area intim yang ditonjolkan hingga batas maksimal membuat celah dagingnya terbuka lebar, berulang kali membuka dan menutup seolah memanggil Shinya.

Shinya mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu ke arah lubang tersebut. Ujung jarinya terbenam basah hingga ke batas kuku.

“Haaa….”

Kaoru melengkungkan tubuhnya ke belakang, dan pada saat yang sama lubang dagingnya menjepit kencang hingga mendorong jari Shinya keluar.

Jepitannya sangat kuat, membuat Shinya cemas apakah penisnya bisa masuk ke tempat sesempit ini.

Saat melirik ke area intimnya sendiri, penis yang telah berdiri penuh sejak tadi tampak memerah gelap, dan dari lubang di ujungnya merembes cairan bening.

Betapa pun sempitnya, ia tidak akan sanggup menahannya tanpa memasukkannya. Shinya memperkuat dorongan jarinya.

Kemudian, secara mengejutkan jarinya menembus masuk dengan mudah, dan jaringan basah yang hangat membungkus jari Shinya dengan lembut.

“Ihara-sensei…. Bagian dalam Sensei terasa sangat nikmat….”

Setelah memasukkannya hingga ke pangkal jari, Shinya membisikkan kesan tersebut bersama dengan desahan napas.

“Haaan, gerakkan… kalau cuma diam, wanita tidak akan merasa nikmat. Aduk-aduk bagian dalam sana dengan jarimu….”

Berkata dengan nada tidak sabar, Kaoru menjepit jari Shinya dengan lubangnya. Karena menghadapi anak laki-laki yang belum berpengalaman merangsang tubuh wanita, ia merasa harus memimpinnya.

Shinya menggerakkan jarinya keluar dan masuk sesuai petunjuk.

Bibir daging melilit, terlipat keluar dan tergulung masuk berulang kali. Gerakan erotis itu memberikan gairah yang tak terlukiskan bagi Shinya.

Saat ia menggosok vagina secara intensif dengan gerakan jari, jumlah cairan yang keluar makin bertambah, hingga cairan kental berwarna putih menumpuk di pangkal jarinya.

“Luar biasa…. Keluar cairan yang sangat kental….”

Ia mengeluarkan cairan itu dengan jari lalu mengusapkannya ke meja.

Ihara Kaoru yang terpelajar dan hampir tidak pernah menunjukkan aura seksual saat pelajaran seni biasa, ternyata mengeluarkan cairan yang begitu kental….

Namun, rangsangan jari Shinya mungkin belum bisa disebut sebagai stimulasi yang sempurna. Bagaimanapun juga, itu hanya seperti anak kecil yang mempermainkan mainan.

Kaoru segera mengeluarkan suara tidak puas.

“Haaan…. Dengarkan, Koganezawa-kun. Jilatlah bagian situ….”

Shinya terkejut lalu menarik jarinya keluar, dan menatap lurus ke arah celah daging Kaoru yang terbuka secara menggoda.

Area sensitif Kaoru begitu indah seolah bukan berasal dari dunia ini. Hanya dengan melihatnya saja, air liur meluap tanpa henti.

Meskipun terbalur cairan kental, ia tidak menganggapnya kotor. Jika diizinkan menjilatnya, ia dengan senang hati akan menjilatnya.

Bahkan sebelum menjawab, Shinya sudah menekan wajahnya ke celah daging Kaoru.

“Haaaah….”

Saat melingkarkan lidahnya dan menusukkannya ke dalam lubang daging, rasa cairan tubuh memenuhi seluruh mulutnya.

Tangan Kaoru menggenggam erat kepala Shinya. Ketika Shinya mulai menggerakkan lidahnya keluar masuk, genggaman itu makin kuat, menyampaikan besarnya kenikmatan yang dirasakan Kaoru.

“Haaa…. Luar biasa…. Aah, nikmat sekali….”

Rangsangan lidah Shinya yang dilakukan berdasarkan insting tampaknya berhasil memuaskan sensasi seksual Kaoru.

Merasa senang melihat guru seni idamannya mengerang tertahan, Shinya mengusap lubang daging itu dengan lidahnya secara persisten, lalu menelusurkan lidahnya ke bagian dalam bibir daging.

“Haaaah…. D-di situ….”

Saat lidah Shinya memutar tonjolan kecil yang terbungkus kulit di ujung celah daging, Kaoru mengeluarkan jeritan kenikmatan.

“Di sini…. Di sini bagian yang terasa sensitif, ya.”

Menggunakan jari untuk menekan dan membuka kulit penutupnya, Shinya memutar tonjolan merah muda yang menyembul keluar dengan ujung lidahnya, lalu menggigitnya secara lembut.

Seirama dengan gerakan lidah Shinya, tubuh Kaoru bergetar hebat di atas meja seperti ikan yang terdampar di daratan.

“Sensei…. Cairan Sensei terus meluap tidak peduli seberapa banyak aku menjilatnya.”

Itu bukan kebohongan. Tak peduli seberapa banyak dihirup, mata air Kaoru tidak pernah kering, mengalir di antara kedua kakinya yang terbuka lebar dan menggenang di atas meja kayu.

Sambil membenamkan wajahnya di area intim dan menjilati celah daging dengan suara basah seperti kucing minum air, Kaoru mengacak-acak rambut Shinya sambil mengeluarkan suara menggoda.

“Aah…. Haaah…. A-aku sudah tidak tahan lagi.”

Meliukkan tubuhnya, Kaoru menggenggam penis di area intim Shinya yang tegang keras dengan tangannya, lalu mengarahkannya ke celah dagingnya yang terbuka lebar.

“Sensei?”

“Tidak apa-apa. Aku ingin kau memasukkannya. Masukkan milik Koganezawa-kun yang gagah ini ke dalam milikku!”

“A-apa benar-benar tidak apa-apa?”

“Haaa, tidak apa-apa. Masukkan. Haaah, masukkan…. Aku ingin kau memasukkannya.”

Menggenggam erat penis Shinya, Kaoru menggosokkan bagian kepalanya ke celah dagingnya sendiri.

Jaringan yang basah kuyup terasa di bagian sensitifnya, membuat seluruh tubuh Shinya menjadi panas membara.

“Sensei…. Ini terasa sangat nikmat….”

Rasanya begitu nikmat hingga ia merasa bisa tuntas bahkan sebelum berhasil masuk.

Dan setelah beberapa kali menggosokkannya, bagian ujungnya terbenam masuk secara basah, membuat tubuh Kaoru bergetar kecil.

“Haaaah….”

Payudara yang memerah gembira bergetar pelan.

“S-Sensei…. Uuu….”

Sambil tenggelam dalam kebahagiaan seperti mimpi, Shinya perlahan menekan pinggulnya ke depan dengan bimbingan Kaoru.

“S-sempit…. Uuu….”

Shinya secara refleks mengerang karena sempitnya lubang daging Kaoru, tetapi dengan bantuan cairan pelumas yang melimpah, bagian kepala penisnya meluncur masuk secara basah.

Kehangatan jaringan yang meleleh terasa di bagian sensitifnya, membuat Shinya mengembuskan napas panjang. Kaoru mengulurkan kedua tangannya ke arah Shinya lalu berbisik dengan suara menggoda.

“Haaa…. Benar. Tetap seperti itu. Tetap seperti itu, masukkan lebih dalam lagi….”

Membuka kaki lebar-lebar di atas meja, Kaoru membimbing muridnya masuk ke pusat tubuhnya.

“Apakah…. Apakah seperti ini sudah benar?”

Shinya makin menekan pinggulnya. Dinding daging terdorong melebar secara perlahan.

Tadi satu jari saja sudah terasa sempit. Ia sempat cemas apakah penisnya yang membesar ini bisa masuk seluruhnya.

Meski wajahnya meringis tertahan, Kaoru menerima Shinya sambil dadanya yang putih dan lembut naik turun bergelombang.

“Haaaah….”

Tubuh Kaoru melengkung ke belakang dan dadanya menonjol, membuat Shinya secara refleks memeluk dan membenamkan wajahnya di sana.

“Aah, luar biasa…. Sangat sempit.”

“Aahn…. Besar…. Besar sekali…. Rasanya lubang vaginaku seperti mau robek. Haaaah….”

Dengan bantuan cairan pelumas yang melimpah, penis Shinya terbenam hingga ke pangkalnya.

Jaringan lembut membungkus dan menjepit erat dari sekelilingnya, dan akibat kenikmatan itu, penis yang terbenam jauh di dalam vagina berdenyut-denyut.

“Haaan.”

Dari bawah, Kaoru melingkarkan arm-nya di punggung Shinya lalu memeluknya erat. Bersamaan dengan tenaga yang masuk ke lengannya, vaginanya juga menjepit Shinya dengan kencang.

Kenikmatan hebat menyebar dari penis ke seluruh tubuhnya, dan Shinya secara instingtif mulai menggerakkan pinggulnya untuk mencari kenikmatan yang lebih tinggi.

“Uuuh…. Sensei….”

Jaringan yang saling bergesekan menimbulkan suara basah yang riuh.

“Haaan. Lagi…. Hantam lebih kuat lagi….”

Rambut panjang Kaoru menempel di dahinya karena keringat.

Sambil melihat dari dekat wajah cantiknya yang terpelajar dan tetap mengenakan kacamata kini terdistorsi oleh gairah, Shinya terus menghantam bagian sensitif gurunya dengan penisnya.

Pemikiran itu membuat kenikmatan yang melahap Shinya melebihi apa yang dirasakan secara fisik di perut bawahnya, dan sesuatu yang panas bergejolak dari dalam tubuhnya.

“Vagina Sensei…. Aah, terlalu nikmat….”

“Haaan, lagi…. Lebih banyak lagi….”

Setiap kali menghantam ke dalam, payudaranya bergoncang hebat. Sambil menelusurkan lidah, menjilat keringat, dan mengulum putingnya, Shinya terus menggerakkan pinggulnya secara intens.

Benturan antar daging menimbulkan suara tamparan keras yang bergema di dalam ruang seni yang sepi.

Dan seolah menggambarkan besarnya kenikmatan Kaoru, cairan gairah yang terdorong keluar oleh bagian kepala penis menumpuk di atas meja.

Ia ingin memberikan kenikmatan yang lebih besar, ingin membuat guru seni yang cantik ini gila dengan penisnya, tetapi kenikmatan dari vagina wanita yang dirasakannya untuk pertama kali ini terlalu kuat.

Akibat gerakan dorongan yang tidak tahu batasan, Shinya dengan cepat terdorong mencapai batas maksimalnya.

“S-sudah tidak tahan lagi…”

Shinya mengatupkan gerahamnya dan berbicara dengan erangan rendah.

Meski begitu, gerakan pinggulnya tidak berhenti. Kesadarannya sendiri sudah tidak mampu mengendalikannya lagi.

Tubuh Shinya yang dikuasai oleh kenikmatan luar biasa melaju kencang menuju momen pembuangan.

“Haaaah… tidak apa-apa, Koganezawa-kun… tidak perlu ditahan… haaa… di dalam Sensei… aah, keluarkan yang banyak di dalam Sensei….”

Diaduk secara kasar di bagian dalam vaginanya, Kaoru berbisik lembut sambil mengembuskan napas tertahan.

(Di dalam… aku harus mengeluarkannya banyak-banyak di dalam?…)

Hanya dengan membayangkan dirinya mencurahkan cairan tubuhnya yang beraroma amis ke dalam bagian rahasia milik Ihara Kaoru—guru seninya yang basah dan panas ini—gairah seksual Shinya sudah memuncak hingga ke batas maksimal.

“Uuuh, Sensei… a-aku sudah mau keluar… mau keluar….”

“Haaa, kemarilah… fuuuaang….”

“Uuuh….”

Shinya menghantamkan pinggulnya sekali lagi dengan sangat kuat, lalu membiarkan tubuhnya membeku seketika.

Di dalam tubuh yang telah menghentikan gerakannya itu, hanya penisnya yang terbenam jauh di dalam lubang vagina Kaoru yang berdenyut dan bergetar hebat, menyemprotkan cairan tubuh yang panas dari ujungnya.

“Haaaang….”

Seolah merasakan pancuran sperma Shinya di kedalaman vaginanya, Kaoru meliukkan tubuhnya dengan menggoda, hingga akhirnya ia melengkungkan tubuhnya ke belakang dan seluruh fisiknya membeku kaku.

“S-Sensei… uuuh….”

Merasakan bahwa Kaoru telah mencapai puncaknya akibat cumbuannya, rasa sukacita membuat penis Shinya berdenyut makin besar, mencurahkan cairan itu hingga tetes terakhir ke kedalaman lubang vagina sang guru seni tanpa tersisa.

 

4. Kejutan

(Ara, suara apa ini?)

Takigawa Yuki mendadak menghentikan langkahnya. Ketika ia memiringkan telinga dan mendengarkan dengan teliti, dari arah ujung koridor terdengar samar-samar suara desahan wanita yang menggoda.

Lantai ini berisi kumpulan ruang kelas khusus, sehingga saat jam sekolah berakhir, hampir tak ada siswa yang melangkahkan kaki ke sana.

Suara aneh itu terdengar dari ujung koridor yang mulai temaram karena matahari hampir tenggelam…. Di sanalah lokasi ruang seni berada.

Di balik baju olahraga merah yang dikenakannya, dadanya mulai berdetak dengan perasaan yang tidak enak.

Jika suara itu terdengar dari ruang seni, berarti pemilik suara itu adalah….

Namun, ia tidak paham apa arti dari suara desahan tersebut. Yuki melangkah menyusuri koridor dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara langkah kaki, hingga akhirnya tiba di depan ruang seni.

Suara itu memang benar-benar berasal dari dalam ruangan ini. Ia mencoba memegang gagang pintu dengan perlahan. Sama sekali tidak bergeser. Pintu itu dikunci dari dalam.

(Apa maksudnya ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam?)

Saat ia menempelkan telinganya ke pintu dan memejamkan mata, situasi di dalam ruang seni mendadak terbayang jelas di dalam kepalanya bagaikan sebuah rekaman video.

Seorang pemuda sedang memeluk dan menyerang tubuh telanjang Kaoru secara agresif.

“Haaang, Koganezawa-kun…. Benar…. Benar seperti itu, lebih kuat…. Hantam lebih kuat lagi…. Haaah….”

Suara desahan Kaoru yang menggoda saling bersahutan dengan embusan napas napas berat khas anak laki-laki.

(…Koganezawa-kun? Koganezawa Shinya dari kelas 2-6? Koganezawa yang itu sedang bersama Ihara Kaoru di dalam ruang seni….)

Bagian dalam tubuhnya mendadak terasa panas membara.

Jantungnya berdegup kencang, dan darah di seluruh tubuhnya bergejolak hebat.

Tentu saja hal itu bukan disebabkan oleh rasa gairah karena tidak sengaja menyaksikan adegan intim pria dan wanita, melainkan karena rasa amarah yang meluap.

(Di ruang kelas setelah jam sekolah…. Apalagi kalian berdua adalah murid dan guru. Ini tidak bisa dimaafkan. Hal seperti ini benar-benar tidak boleh dibiarkan….)

Tanpa sadar ia mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu, tetapi tepat sebelum kepalan tangannya menyentuh pintu, Yuki mengurungkan niatnya.

Jika ia menerobos masuk ke tempat kejadian ini, apa yang harus ia katakan?….

Berbagai keraguan dan kebingungan bergejolak di dalam dadanya.

(Ah, terserahlah. Kalian boleh melakukan apa saja sesuka hati kalian.)

Pada akhirnya, setelah bergumam kesal di dalam hatinya, Yuki memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan cepat menyusuri koridor kembali ke arah semula.

Post a Comment

0 Comments